Tentang Menghargai

Pernah ketemu gak sama orang yang bawaannya curigaaaa mulu, negatif thinkiiiinngg mulu, ngiriiii mulu? Maunya dihargai, tapi gak pernah menghargai orang lain? Ngerasa paling bener, paling ngerti semuanya, paling hebat? Ceritanya ada temen curhat nih. Dia ngrasa gak dihargai. Sudah kerja cape, gak itungan tenaga, tapi masih dicurigai mata duitan. Kalo gak ada duitnya gak mau kerja. Udah gitu dari dulu gak pernah dihargai. Bahkan sampe dibilang gak bisa kerja, gak punya otak, gak becus kerja. Kebayang ya gimana rasanya? Diluar apakah tuduhan itu benar adanya, apakah layak dia diperlakukan kayak gitu? Menurutnya dia diperlakukan kayak gitu udah lama banget, dan selama ini dia mengalah karena gak mau ribut sama cewe. Tapi kalo denger curhatan si temen ini, aku sendiri kok jadi mikir juga. Kok ada ya cewe mulutnya jahat kayak gitu? Apa dia gak takut karma? Mungkin orang yang bersangkutan ngalah dan gak bales, tapi apa dia gak takut Tuhan yang diatas ngliat kelakuan kita? Sebenernya, gak perlu memuji-muji, atau bermulut manis. Cukup dengan berbicara dengan baik, tidak menggunakan bahasa kasar, dan mau mendengarkan dulu alasan orang lain juga sudah bisa dibilang menghargai kan? Bukankah setiap kita akan berucap, bertindak, dan memperlakulan orang lain, kita perlu juga memikirkan seperti apa kita ingin diperlakukan oleh orang lain? Memang sih, namanya manusia pasti kadang ada emosi dan kelepasan juga, tapi kalo tiap kali berucap dan bertindak bikin orang lain sakit hati, apa ya pantas? Trus kalo mereka merendahkan orang, ngatain orang gak punya otak, dan gak becus kerja, orang susah, apa mereka merasa lebih hebat, lebih beradab, lebih pintar, lebih berkelas, dan gak pernah bikin salah? Apa yang namanya orang berpendidikan, bermartabat, dan hebat, cara memperlakukan orang lain harus kayak gitu? Kayaknya kalo liat orang-orang besar dan sukses diluar sana, mereka santun, dan menghargai orang lain ya? Temenku yang curhat ini bilang beneran udah gak tahan, karena sudah begitu lama merasa tidak dihargai. Dia merasa sakit hati, dan harga dirinya terluka. Bahkan pada saat curhat, matanya berkaca-kaca menahan air matanya karena emosi. Aku sebenernya model orang yang cuek, masa boso, dan gak mau ikut campur urusan orang lain sih. Tapi karena temenku ini beneran tampak terluka, aku menyediakan diri untuk jadi pendengar yang baik saja :). Tidak berkomentar banyak, sekedar mendamaikan hatinya yang terluka saja. Sabar ya teman, jangan sampai kamu hilang identitas, dan integritasmu, dan jadi seperti yang tidak kamu inginkan. Teruslah berbuat baik, karena aku percaya Tuhan melihat setiap perbuatan kita πŸ˜‰

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Menghargai

  1. Wah kasian juga yah temannya.. berusaha diam, tapi ternyata menyimpan sakit hati juga..

    bener.. aku juga berusaha jaga kata2. karena kadang kita gak tau yah lawan bicara kita lagi good mood or badmood. salah2 kita malah jadi batu sandungan buat temen kita.. πŸ™‚

    • Iya Vi, padahal cowo, curhatnya sambil berkaca-kaca, saking udah klamaan diem kali ya hehe. Iya bener, harus hati-hati kalo ngomong sama orang, jangan sampe bikin orang sakit hati ya πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s